sedikit goresan pena yang lama tersimpan..!!! ( part 3 )

Author juniantama ade putra Category

Film, sinetron, iklan, dan semacamnya, telah mendidik kita secara salah tentang cinta: seolah cinta cuma persoalan “mendesain” romantisme, dan mencintai cukup dengan menyerahkan sekuntum bunga. Beuh, anak kecil juga bisa!

Lebih konyol lagi, cinta juga seolah hanya urusan mendapatkan sesuatu. Lihatlah hari valentin, saat ketika cinta dikerucutkan menjadi sekadar romantisme, momen ketika kamu berharap dan mendapat sesuatu: seikat mawar merah, atau jika cukup mujur (ditaksir orang tajir) dapat sebuah cincin berlian. Atau bagi para cowok, ini mungkin saat, di mana pada akhirnya kamu “diizinkan” untuk menyentuh bibirnya, dengan bibirmu. Dan kalian pun berteriak dengan bangga ke ujung cakrawala… “Hei… lihatlah, kami sedang jatuh cinta!”

Tapi benarkan cinta sesederhana itu? Hanya sekadar demam warna pink, cuma persoalan mendapatkan dan mendapatkan? Rasanya kok nggak juga ya… Cinta bukan melulu persoalan kenyamanan, keindahan, romantisme, atau bahkan terpenuhinya segala hasrat. Cinta justru persoalan memberi, tanpa syarat! Mari menghitung, berapa gelintirlah manusia yang benar-benar mengerti cinta jenis ini (tentu saja selain para orang tua yang dengan tulus menyayangi anak-anaknya.)

Egosentris. Copernicus salah, apalagi Ptolomeus! Bumi bukan mengelilingi matahari, tetapi matahari, bumi, dan segenap benda-benda kosmos, beredar mengelilingi kamu. Kamulah pusat dari segala. Yang penting buat kamu cuma hal yang bisa membuat kamu merasa lebih besar, lebih baik, lebih berarti, lebih “lengkap”.

Padahal, jika kamu berani mengaku sedang mencintai, maka gerakkanlah seluruh makro dan mikro kosmos untuk mengelilingi dia. Perkara dia sempurna atau tidak, memenuhi kriteriamu atau tidak, wujud dari fantasimu atau tidak, itu soal nanti. Cukup karena dia adalah dia!

Hal yang membuat kamu terlihat sungguh-sungguh indah adalah, ketika kamu bisa menjadi diri kamu yang sesungguhnya, ketika hal-hal yang paling natural, yang paling apa adanya dalam dirimu, kamu biarkan keluar, terlihat dalam terang. Nggak seperti selama ini, sesuatu yang kamu banget itu, justru berusaha ditutupi sekuat tenaga, dengan kosmetik, fesyen, les kepribadian dan sebagainya. Kamu menjadi orang lain: and then, you’re just another woman, or an ordinary man or even worse than that. Nothing is special enough worth a true love.

Kegilaan, kekonyolan, ketidaksempurnaan, pokoke berbagai “kekurangan” dalam dirimu, selama ini menumpuk di dalam sana, terbungkus rapi. Padahal jika berani membiarkannya keluar, itulah pesona kamu yang sesungguhnya, yang tak akan bisa didapatkan pada diri siapapun.

Defenisi keindahan, telah “diseragamkan” oleh iklan dan gemerlap pemasaran produk-produk konsumerisme. Kulit putih, rambut legam tergerai ringan dan enak jatuhnya, tubuh langsing, bahkan, maaf ni ye, bokong berisi dan payudara kencang. Pokoknya hal-hal fisikal semacam itu. Hal-hal yang hanya akan memesona lelaki untuk menikmati, bukan untuk mencintai. Hal-hal yang memosisikan diri kamu sebagai objek!

“Topeng-topeng kecantikan” yang mengkilap itu, didesain untuk memenuhi fantasi kolektif manusia tentang “kesempurnaan kecantikan”. Padahal itu sama sekali ngga cantik. Sekali lagi, ngga cantik!

Kita sudah sekian lama menjadi korban dari kelihaian penjual kecantikan yang seragam dan pasaran banget itu. Kita berburu kebahagiaan-kebahagiaan buatan, yang dalam hitungan hari akan menghempaskan kita pada realita yang menyesakkkan.

Menjadi diri sendiri, berarti kesiapan untuk mengalami segalanya. Kita harus merasakan tidak saja keindahan dan kebahagiaan, tetapi juga kepedihan dan kesendirianan. Dan jika kamu sudah memutuskan untuk mencintai seseorang, maka rubuhkanlah segala sekat antara kalian berdua, biar dia bisa datang, dengan segala yang ada padanya. Kamu membuka diri, tidak cuma untuk mendapat dekapan dan ciumannya, tetapi juga menampung ketakutan dan kepedihannya. Itu deal-nya.

Masak kamu mau dapat satu darinya, tapi menolak hal lainnya. Mau mukanya yang baby face, tapi ogah sama sifat childish-nya. Mau kokohnya dekapan dan dada bidangnya, namun gx terima kebiasaannya nongkrong dengan genk-nya? Menerima seseorang itu, harus sistem paket!

Bisa aja sih milih-milih, tapi maaf, itu pasti bukan cinta, tapi cuma hubungan dengan syarat-syarat tertentu, dan akan berakhir begitu syarat-syarat itu tak bisa dipenuhi.

Sebagian orang akan berusaha mencari cinta, memagut yang satu, melepas yang lain, mengejar si Y, memutuskan si X. Seperti burung yang sejenak bercinta di dahan cemara, untuk kemudian terbang ke belahan langit yang berbeda. Sampai kapan, Bos? Nanti sayapmu keburu patah, dan akhirnya mendarat dengan keras di kubangan kerbau. Bercinta dengan kerbau? Cape deh…

Seseorang yang berkelana mencari cinta di banyak tempat, hanya akan menemui kekosongan dan kekosongan.

Cobalah mencintai seseorang, bukan sekadar mengharap kamu akan mendapat sesuatu dari dirinya. Cintailah dia karena dia. Bukan sekadar karena bening matanya menenggelamkanmu dalam samudera rasa tak terperikan, apalagi cuma karena bau tubuhnya membangkitkan saraf-saraf birahimu. Tetapi dengan penerimaan pada kompleksitas dan kerumitan dirinya, pada kekurangan dan ketidaksempurnaannya.

Mencintai berarti bersedia tenggelam pada kedalaman diri seseorang, termasuk berdamai dengan masa lalunya, mendukung pilihan masa depannya. Karena di bawah sana, pada kegelapan dan ketakutannya, pada kelemahan dan ketidakpastian hidupnya, kamu mungkin akan menemukan dirimu sendiri.

Itu sebuah tempat yang jauh di seberang hasrat, nun di luar cuaca, melayang meninggalkan derita, dan lupa, kapan bahagia itu ada.

0 komentar:

Posting Komentar

blog-indonesia.com
Share |
MY SHOUTMIX
ShoutMix chat widget
Theme by New wp themes | Bloggerized by Dhampire